Ini hari Sabtu.
Siang hari yang lumayan terik, namun masih terbilang hangat untuk cuaca penghujung musim panas di kota Seoul.
Tapi, kontras dengan cerahnya cuaca Korea hari ini,
Suasana hati seorang Kim Seokjin jelas mendung. Gersang. Ditutupi awan kelabu karena hatinya pun, kalau boleh dibilang jujur, tengah gondok setengah mati.
Jangan ditanya penyebabnya. Karena pemuda itu kini tengah duduk berhadapan dengan biang kerok suasana keruh hatinya.
Terlebih; ketika makan siang yang semula masih hangat, kini berakhir perlahan menjadi dingin.
Jemarinya lebih memilih memilin sumpit tanpa ada niat sedikit pun untuk menyendok satu potong daging bulgogi yang menjadi menu makan siang mereka siang itu.
Iya, mereka.
Kim Seokjin, dan sang pacar tercinta; Kim Namjoon.
Cuma berdua?
Ya, jelas.
Karena sisa anggotanya yang lain, sebut saja;
Taehyung dan Jungkook, lebih memilih untuk menghabiskan waktu berkencan di game centre yang terletak tidak terlalu jauh dari apartemen. Katanya sih, ingin bertanding untuk membuktikan siapa yang pecundang di antara mereka berdua. Terancam tidak kembali semalaman, atau bahkan sampai besok.
Seokjin tidak terlalu khawatir. Toh, mereka sama-sama dewasa. Jeon Jungkook pun baru menginjak usia legal beberapa pekan lalu. Jadi ia tidak mempermasalahkan seandainya mereka berdua lebih memilih menghabiskan malam minggu dengan menginap di Hotel.
Well, selama mereka tetap mengindahkan nasihatnya untuk 'ingat memakai pengaman'.
Lalu, ada Park Jimin.
Kali ini, memiliki acaranya sendiri. Bermain billyard bersama salah satu temannya yang lain. Itu, si Lee Taemin dari agency sebelah. Bilang akan pulang larut. Entah Seokjin bisa memegang kata-katanya atau tidak. Mungkin ia lebih memilih bermalam menemani Min Yoongi yang tengah sibuk menggarap project terbarunya di Genius Lab. Memastikan kekasih gulanya untuk makan teratur.
Yah, setidaknya ia tidak perlu mengkhawatirkan salah satu kawannya yang terancam pingsan karena maag kumat.
Ada juga Jung Hoseok.
Entahlah. Pemuda itu akhir-akhir ini lebih suka pergi bersama kawan-kawan lamanya saat weekend ketimbang bermalas-malasan di dorm. Kadang ia juga suka bermalam di studionya sendiri untuk mengurus mixtape yang katanya akan segera dirilis.
Seokjin tidak tahu kapan.
Karena ketika ditanya, pemuda Jung itu hanya akan menjawab dengan nada cuek, "Pokoknya tunggu saja~"
Terakhir; ada Kim Namjoon.
Si leader yang bisa diandalkan, sekaligus si pacar kesayangan.
Ia sendiri tidak tahu harus merespon seperti apa dua kalimat di atas. Karena jujur, kalau dibilang bisa diandalkan, memang benar.
Tapi untuk pacar kesayangan?
Well, sepertinya gelar itu akan berganti dalam waktu hitungan menit ke depan.
"Namjoon-ah,"
"Hm?"
Seokjin menghela nafas. Sebelah tangannya yang di taruh di atas pangkuan, mengepal erat ketika melihat respon sang pacar yang terlampau cuek,
"Ini sudah lima belas menit."
"Sebentar, sayang." Pemuda itu menyela dengan menaruh telunjuk pada udara; gestur singkat untuk meminta pada Seokjin agar diam barang sejenak, "Ini penting."
Penting kepalamu.
"Namjoon-ah,"
Namjoon dengan senyum terpaksa, menaruh kembali handphonenya di atas meja, sebelum memusatkan seluruh perhatian pada Seokjin yang menatapnya sembari merengut. Kentara sekali terlihat kesal.
Ia sedikit meringis ketika tangan yang awalnya dijulurkan untuk mengamit milik si kesayangan yang berada di atas meja, justru ditepis kasar oleh empunya.
"Maaf."
"Tidak." Seokjin bersidekap, pandangannya memicing, "Ini sudah keterlaluan."
Namjoon mengerang. Dahinya berkerut, "Ayolah, tadi itu penting."
"Seberapa penting sampai kau mengabaikanku, Joon-ah?"
"Sangat penting. Ini menyangkut pekerjaan kita!"
"Persetan."
"Sayang, ku kira kita sudah pernah membahas ini sebelumnya." Namjoon menghela nafasnya kesal. Beralih mengambil kembali handphone yang tergeletak di atas meja. Mengerang kembali ketika notifikasi dua puluh tujuh pesan lain terpampang jelas pada layar yang kini menyala,
"Oh. Sial."
Seokjin tersenyum remeh. Matanya mengerling seraya menaikkan sebelah alis ke arah Namjoon yang bersungut kesal, "Pekerjaan lagi?"
"Iya. Maksudku—oh, Ya Tuhan!"
"Penting mana, aku atau pekerjaan?"
"Keduanya tidak bisa dibandingkan, sayang."
"Alasan." Ujarnya seraya memutar mata malas.
"Kau tau," Namjoon mendadak beranjak dari duduknya. Menghasilkan tatapan bertanya dari Seokjin yang menatapnya sembari mengernyit,
"Mau kemana?"
"Aku harus ke studio." Ia berujar kalem sembari memakai kembali jaketnya yang teronggok pada kursi, "Aku kembali lagi nanti sore."
"Tapi, makan siang—"
"Maaf, makan duluan ya, sayang?" senyumnya tipis dengan sedikit memaksa, "Besok, I promise I'll make it up for you."
Dan Seokjin tidak mampu balas berkata ketika Namjoon membubuhkan satu kecupan halus pada kening sebelum meninggalkannya sendiri.
.
.
.
.
.
Apa kemarin katanya?
Promise I'll make it up for you, begitu?
Halah. Sok.
Nyatanya, kembali lagi pada rutinitas yang sama.
Yang ada hanya Seokjin, makanan yang mendingin di atas meja, serta Kim Namjoon yang masih sibuk dengan ponselnya. Entah untuk apa.
Yang jelas, sudut dahi Seokjin berkedut kesal ketika Namjoon beberapa kali akan terkekeh tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian dari layar handphonenya yang tidak berhenti berdenting beberapa kali.
"Namjoon-ah."
"Ah?—Haha, maaf, sayang." Namjoon terkekeh sebelum menaruh kembali handphonenya ke dalam kantong, "—Apa tadi?"
Seokjin mendesah pasrah. Mendorong piring makanannya ke tengah sembari beranjak bangun, "Tidak apa. Aku sudah kenyang."
"Eh? Kenyang?" Namjoon tersentak. Buru-buru mencekal pergelangan Seokjin yang baru akan terbangun meninggalkan dapur, "Kim Seokjin? Pacarku? Kenyang?"
"Iya kenyang. Puas?" Ujarnya kesal sembari menepis pergelangan Namjoon yang menahannya, "Aku lelah kalau harus makan perhatian. Sana, kembali fokus pada handphone kesayanganmu."
"Loh?"
"Apa loh?"
Namjoon menggeleng, "Maksudku—loh? Kau kenapa sih?"
"Kenapa?" Ia terkekeh remeh. Wajahnya merengut kesal bukan main ketika melihat ekspresi kebingungan Namjoon, "Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Joon-ah. Pacarmu itu handphone atau aku?"
Namjoon mengerjap bingung, "Ya Kim Seokjin dong."
"Yakin?"
"Sangat yakin."
"Serius?"
"Dua rius kalau perlu." Ia mengamit kedua tangan Seokjin. Menggenggamnya erat, seraya mengelus punggung tangan milik sang kekasih halus sekali, "Sekarang, bilang kenapa?"
Kim Seokjin merengut. Bibirnya mengerucut seraya menatap Namjoon lekat.
Sebenarnya sih, malu.
Karena ia tahu, alasan marahnya sungguh kekanak-kanakan sekali untuk ukuran seorang pria berkepala dua sepertinya.
Tapi, ya bagaimana, toh?
Namanya cemburu, memangnya bisa ditahan?
Lain Seokjin, lain juga pada Kim Namjoon.
Pria itu sedari tadi menahan diri supaya sunggingan senyumnya tidak menguar.
Karena, oh, betapa Kim Seokjin yang sedang merajuk itu terlihat luar biasa manis dan cantik.
Tapi, galak dan mematikan juga. Makanya ia mati-matian diri menahan supaya tidak tertawa gemas.
"Jadi—?"
"Aku cemburu, Namjoon-ah."
Disini, Namjoon sukses cengo. Ia mengerjap bingung, dengan kedua alis yang berkerut, "Cemburu?"
Seokjin mengangguk,
"Cemburu pada—?"
"Ponsel sialanmu itu." Seokjin menghempas genggaman Namjoon pada jarinya. Tapi, sebelum prianya sempat protes, ia buru-buru mengalungkan lengan pada leher jenjang milik sang pacar seraya menarik tubuhnya merapat. Nyaris menempelkan kening mereka berdua, dan membiarkan Namjoon menaruh kedua tangan pada lekuk pinggangnya,
"Aku itu pacarmu, 'kan?"
"Selalu, kok."
"Jadi, aku berhak dong, mendapat perhatian lebih?"
"Kau itu selalu prioritasku, Seokjin-ah." Namjoon terkekeh, "Selalu, kok."
"Kalau begitu—" ia melirik ke arah kantung saku jaket Namjoon. Dimana benda persegi itu menyala kembali, dengan kedipan lampu notifikasi merah, bersamaan dengan—sekilas yang ia bisa lihat—notifikasi beberapa pesan singkat yang masuk memenuhi layar lockscreennya yang terpampang foto mereka berdua yang diambil saat berlibur ke Hawaii,
"—Aku boleh kan, memonopoli perhatianmu? Aku mau hak-ku sebagai pacar."
Dan Namjoon sukses terkekeh gemas.
Berulang kali mencuri kecupan kilat pada bibir lembut Seokjin yang merekah seraya mengusakkan ujung hidung mereka berdua,
"Sampai kapanpun, hak itu boleh bebas diklaim olehmu kok, hyung."
Berakhir dengan ciuman lembut sekali. Dimana Namjoon sukses mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Seokjin, dan empunya semakin menenggelamkan diri dalam pelukannya yang begitu hangat.
Makan siang, untuk yang kedua kalinya minggu itu, berakhir ditelantarkan di atas meja.



