Like a Papermoon We build our own sand-castle, together, forever!

Wednesday, October 18, 2017

Attention!




Ini hari Sabtu.

Siang hari yang lumayan terik, namun masih terbilang hangat untuk cuaca penghujung musim panas di kota Seoul.




Tapi, kontras dengan cerahnya cuaca Korea hari ini,
Suasana hati seorang Kim Seokjin jelas mendung. Gersang. Ditutupi awan kelabu karena hatinya pun, kalau boleh dibilang jujur, tengah gondok setengah mati.





Jangan ditanya penyebabnya. Karena pemuda itu kini tengah duduk berhadapan dengan biang kerok suasana keruh hatinya.
Terlebih; ketika makan siang yang semula masih hangat, kini berakhir perlahan menjadi dingin.


Jemarinya lebih memilih memilin sumpit tanpa ada niat sedikit pun untuk menyendok satu potong daging bulgogi yang menjadi menu makan siang mereka siang itu.



Iya, mereka.


Kim Seokjin, dan sang pacar tercinta; Kim Namjoon.


Cuma berdua?


Ya, jelas.

Karena sisa anggotanya yang lain, sebut saja;


Taehyung dan Jungkook, lebih memilih untuk menghabiskan waktu berkencan di game centre yang terletak tidak terlalu jauh dari apartemen. Katanya sih, ingin bertanding untuk membuktikan siapa yang pecundang di antara mereka berdua. Terancam tidak kembali semalaman, atau bahkan sampai besok.

Seokjin tidak terlalu khawatir. Toh, mereka sama-sama dewasa. Jeon Jungkook pun baru menginjak usia legal beberapa pekan lalu. Jadi ia tidak mempermasalahkan seandainya mereka berdua lebih memilih menghabiskan malam minggu dengan menginap di Hotel.
Well, selama mereka tetap mengindahkan nasihatnya untuk 'ingat memakai pengaman'.



Lalu, ada Park Jimin.

Kali ini, memiliki acaranya sendiri. Bermain billyard bersama salah satu temannya yang lain. Itu, si Lee Taemin dari agency sebelah. Bilang akan pulang larut. Entah Seokjin bisa memegang kata-katanya atau tidak. Mungkin ia lebih memilih bermalam menemani Min Yoongi yang tengah sibuk menggarap project terbarunya di Genius Lab. Memastikan kekasih gulanya untuk makan teratur.

Yah, setidaknya ia tidak perlu mengkhawatirkan salah satu kawannya yang terancam pingsan karena maag kumat.



Ada juga Jung Hoseok.

Entahlah. Pemuda itu akhir-akhir ini lebih suka pergi bersama kawan-kawan lamanya saat weekend ketimbang bermalas-malasan di dorm. Kadang ia juga suka bermalam di studionya sendiri untuk mengurus mixtape yang katanya akan segera dirilis.

Seokjin tidak tahu kapan.
Karena ketika ditanya, pemuda Jung itu hanya akan menjawab dengan nada cuek, "Pokoknya tunggu saja~"





Terakhir; ada Kim Namjoon.


Si leader yang bisa diandalkan, sekaligus si pacar kesayangan.

Ia sendiri tidak tahu harus merespon seperti apa dua kalimat di atas. Karena jujur, kalau dibilang bisa diandalkan, memang benar.

Tapi untuk pacar kesayangan? 

Well, sepertinya gelar itu akan berganti dalam waktu hitungan menit ke depan.





"Namjoon-ah,"

"Hm?"


Seokjin menghela nafas. Sebelah tangannya yang di taruh di atas pangkuan, mengepal erat ketika melihat respon sang pacar yang terlampau cuek,

"Ini sudah lima belas menit."

"Sebentar, sayang." Pemuda itu menyela dengan menaruh telunjuk pada udara; gestur singkat untuk meminta pada Seokjin agar diam barang sejenak, "Ini penting."



Penting kepalamu.



"Namjoon-ah,"

Namjoon dengan senyum terpaksa, menaruh kembali handphonenya di atas meja, sebelum memusatkan seluruh perhatian pada Seokjin yang menatapnya sembari merengut. Kentara sekali terlihat kesal.

Ia sedikit meringis ketika tangan yang awalnya dijulurkan untuk mengamit milik si kesayangan yang berada di atas meja, justru ditepis kasar oleh empunya.



"Maaf."

"Tidak." Seokjin bersidekap, pandangannya memicing, "Ini sudah keterlaluan."

Namjoon mengerang. Dahinya berkerut, "Ayolah, tadi itu penting."

"Seberapa penting sampai kau mengabaikanku, Joon-ah?"

"Sangat penting. Ini menyangkut pekerjaan kita!"

"Persetan."

"Sayang, ku kira kita sudah pernah membahas ini sebelumnya." Namjoon menghela nafasnya kesal. Beralih mengambil kembali handphone yang tergeletak di atas meja. Mengerang kembali ketika notifikasi dua puluh tujuh pesan lain terpampang jelas pada layar yang kini menyala,
"Oh. Sial."



Seokjin tersenyum remeh. Matanya mengerling seraya menaikkan sebelah alis ke arah Namjoon yang bersungut kesal, "Pekerjaan lagi?"

"Iya. Maksudku—oh, Ya Tuhan!"

"Penting mana, aku atau pekerjaan?"

"Keduanya tidak bisa dibandingkan, sayang."

"Alasan." Ujarnya seraya memutar mata malas.

"Kau tau," Namjoon mendadak beranjak dari duduknya. Menghasilkan tatapan bertanya dari Seokjin yang menatapnya sembari mengernyit,

"Mau kemana?"

"Aku harus ke studio." Ia berujar kalem sembari memakai kembali jaketnya yang teronggok pada kursi, "Aku kembali lagi nanti sore."

"Tapi, makan siang—"

"Maaf, makan duluan ya, sayang?" senyumnya tipis dengan sedikit memaksa, "Besok, I promise I'll make it up for you." 





Dan Seokjin tidak mampu balas berkata ketika Namjoon membubuhkan satu kecupan halus pada kening sebelum meninggalkannya sendiri.













.
.
.
.
.

Apa kemarin katanya?


Promise I'll make it up for you, begitu?




Halah. Sok.




Nyatanya, kembali lagi pada rutinitas yang sama.



Yang ada hanya Seokjin, makanan yang mendingin di atas meja, serta Kim Namjoon yang masih sibuk dengan ponselnya. Entah untuk apa.
Yang jelas, sudut dahi Seokjin berkedut kesal ketika Namjoon beberapa kali akan terkekeh tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian dari layar handphonenya yang tidak berhenti berdenting beberapa kali.




"Namjoon-ah."

"Ah?—Haha, maaf, sayang." Namjoon terkekeh sebelum menaruh kembali handphonenya ke dalam kantong, "—Apa tadi?"

Seokjin mendesah pasrah. Mendorong piring makanannya ke tengah sembari beranjak bangun, "Tidak apa. Aku sudah kenyang."


"Eh? Kenyang?" Namjoon tersentak. Buru-buru mencekal pergelangan Seokjin yang baru akan terbangun meninggalkan dapur, "Kim Seokjin? Pacarku? Kenyang?"

"Iya kenyang. Puas?" Ujarnya kesal sembari menepis pergelangan Namjoon yang menahannya, "Aku lelah kalau harus makan perhatian. Sana, kembali fokus pada handphone kesayanganmu."

"Loh?"

"Apa loh?"

Namjoon menggeleng, "Maksudku—loh? Kau kenapa sih?"

"Kenapa?" Ia terkekeh remeh. Wajahnya merengut kesal bukan main ketika melihat ekspresi kebingungan Namjoon, "Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Joon-ah. Pacarmu itu handphone atau aku?"

Namjoon mengerjap bingung, "Ya Kim Seokjin dong."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

"Serius?"

"Dua rius kalau perlu." Ia mengamit kedua tangan Seokjin. Menggenggamnya erat, seraya mengelus punggung tangan milik sang kekasih halus sekali, "Sekarang, bilang kenapa?"




Kim Seokjin merengut. Bibirnya mengerucut seraya menatap Namjoon lekat.
Sebenarnya sih, malu.
Karena ia tahu, alasan marahnya sungguh kekanak-kanakan sekali untuk ukuran seorang pria berkepala dua sepertinya.



Tapi, ya bagaimana, toh?

Namanya cemburu, memangnya bisa ditahan?




Lain Seokjin, lain juga pada Kim Namjoon.
Pria itu sedari tadi menahan diri supaya sunggingan senyumnya tidak menguar.
Karena, oh, betapa Kim Seokjin yang sedang merajuk itu terlihat luar biasa manis dan cantik.
Tapi, galak dan mematikan juga. Makanya ia mati-matian diri menahan supaya tidak tertawa gemas.



"Jadi—?"

"Aku cemburu, Namjoon-ah."

Disini, Namjoon sukses cengo. Ia mengerjap bingung, dengan kedua alis yang berkerut, "Cemburu?"

Seokjin mengangguk,

"Cemburu pada—?"

"Ponsel sialanmu itu." Seokjin menghempas genggaman Namjoon pada jarinya. Tapi, sebelum prianya sempat protes, ia buru-buru mengalungkan lengan pada leher jenjang milik sang pacar seraya menarik tubuhnya merapat. Nyaris menempelkan kening mereka berdua, dan membiarkan Namjoon menaruh kedua tangan pada lekuk pinggangnya,

"Aku itu pacarmu, 'kan?"

"Selalu, kok."

"Jadi, aku berhak dong, mendapat perhatian lebih?"

"Kau itu selalu prioritasku, Seokjin-ah." Namjoon terkekeh, "Selalu, kok."

"Kalau begitu—" ia melirik ke arah kantung saku jaket Namjoon. Dimana benda persegi itu menyala kembali, dengan kedipan lampu notifikasi merah, bersamaan dengan—sekilas yang ia bisa lihat—notifikasi beberapa pesan singkat yang masuk memenuhi layar lockscreennya yang terpampang foto mereka berdua yang diambil saat berlibur ke Hawaii,
"—Aku boleh kan, memonopoli perhatianmu? Aku mau hak-ku sebagai pacar."



Dan Namjoon sukses terkekeh gemas.
Berulang kali mencuri kecupan kilat pada bibir lembut Seokjin yang merekah seraya mengusakkan ujung hidung mereka berdua,


"Sampai kapanpun, hak itu boleh bebas diklaim olehmu kok, hyung."




Berakhir dengan ciuman lembut sekali. Dimana Namjoon sukses mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Seokjin, dan empunya semakin menenggelamkan diri dalam pelukannya yang begitu hangat.




Makan siang, untuk yang kedua kalinya minggu itu, berakhir ditelantarkan di atas meja.






Saturday, October 14, 2017

Jealous!



Long Distance Relationship?



Hm, bukan masalah sebenarnya.
Toh, hanya berbatas pada jarak kan? Bukan dimensi maupun dunia?
Selama jarak itu masih bisa ditempuh, perbedaan waktu yang tidak seberapa, serta atas dasar saling percaya, sebenarnya hubungan jarak jauh itu bukan sesuatu yang perlu di besar-besarkan.



Setidaknya begitu lah menurut Min Yoongi.
Mahasiswa tahun ke-tiga Seoul National University. SNU sih, sebutan terkenalnya di kalangan pelajar.



Yah, dia sedang dalam masa-masa hubungan jarak jauh. Dengan seorang pemuda asal Busan.
Yang tengah menjalani masa tahun-tahun terakhirnya di SMA sebelum melanjutkan ke universitas yang sama dengannya.


Kata orang, cinta itu tidak mengenal batasan.
Umur pun bukan masalah. Yoongi memang lebih tua, tapi ada satu titik dimana Park Jimin—pacarnya—bisa berlaku jauh lebih dewasa dari usianya.
Park Jimin itu perhatian, lho. Serius. Kenal awalnya sebatas aplikasi online chatting, berujung dengan mereka bertemu—ini Jimin yang memaksa—kemudian berkencan buta beberapa kali sampai akhirnya si bocah Busan yang menyatakan perasaan ketika pemuda itu mendatangi rumahnya tanpa diundang.



Iya, Park Jimin itu pemuda nekat. Yoongi tahu.






Di awal-awal hubungan jarak jauh, Park Jimin kerap sekali menghubunginya.
Sekedar melepas rindu, atau mengingatkan Yoongi untuk tidak lupa makan. Well, kekhawatiran yang berlebihan, sebenarnya. Meskipun ia akui, sebelumnya ia pernah menderita serangan maag akut yang mengharuskannya menginap di rumah sakit, ditemani Park Jimin yang dengan nekat melintasi perbatasan hanya untuk menemaninya.



Duh, diingat lagi,Yoongi jadi kangen, kan.



Pasalnya, pacarnya yang biasanya rajin mengabari, sekarang jadi sering absen mengiriminya pesan-pesan pengingat singkat.
Jangankan sekedar menelpon untuk menanyakan;
-'Hai, Kak. Apa kabar hari ini?'
 atau
-'Jangan lupa makan kak.'

Membalas pesan kakaonya saja tidak. Benar-benar bocah itu.



Tahu, sih, kalau pacarnya itu bilang, di akhir tahun kedua, ia sudah mulai bekerja sambilan. Katanya untuk menambah biaya hidup kalau sudah merantau ke Seoul nanti, supaya tidak merepotkan orang tua.
Begitu sih, katanya.
Enam bulan pertama di tahun ketiga, Park Jimin masih sempat mengiriminya pesan, kok. Atau menelpon singkat sekalipun itu tengah malam.
Tapi sekarang—?

Tch. Ingat, pesan kakaonya saja tidak dibalas. Bangsat.





Kalut? Jelas.


Yoongi bukan tipe pencemburu, tapi ia merasa kalut luar biasa semenjak Park Jimin mulai jarang menghubunginya.
Pikiran seperti; 'Bagaimana kalau ia menyukai gadis lain di tempat kerja?' jadi menginvasi isi otaknya.
Tidak mau berpikir buruk, sih. Tapi—




'Halo?'


Yoongi bahkan tidak sadar, kalau sedari tadi, telponnya sudah tersambung.
Dan suara serak rendah yang terdengar lelah mulai memasuki telinganya.


Oh, Yoongi kangen sekali!



'Halo?'

"H-Halo? Jimin?" Yoongi merutuki dirinya yang tergagap di awal kalimat, "Uh, sibuk?"

Di seberang terkekeh, 'Lumayan. Kenapa, kak? Kangen?'


Kangen. Kangen sekali.
Bocah sialan.



"Ck, siapa bilang sih?" Yoongi memutar matanya malas. Sekalipun sekali lagi, Jimin mengeluarkan kekehan yang reflek membuatnya menyungging senyum, "Cuma mau bertanya, sudah makan?"

Jimin menggumam sekilas, 'Belum. Nanti. Sehabis kerja, aku makan.'

"O-Oh," Yoongi mengangguk canggung, "Kerjanya lama?"

'Enam jam kerja, setiap hari.' Jimin berdeham, 'Tidak terlalu lama, sih. Rata-rata kerja memang segitu, kok.'


"Itu lama, Jimin." Yoongi sendiri kaget ketika mendengar suaranya yang keluar dengan nada merajuk yang terkesan manja, "M-Maksudku—"

'Iya, tau. Kangen, tau. Aku juga, kak.' Jimin tertawa, 'Yah, aku harus mulai kerja. Nanti kuhub—'


'Jimin oppa! Ayo bermain disana!'





Deg,





Jantung Yoongi mendadak berdetak begitu cepat.


Apa itu?


Suara gadis?



'A-Ah, ya! Nanti aku segera kesana. Tung—'

"Jimin," Yoongi merasakan suaranya bergetar, "Itu—siapa?"

'Ah, Yoon. Maaf, itu—'

'Jimin oppa! Ayo, cepat!' 

'Iya, Yerin-ah, tunggu, nanti aku kesana!'


Yoongi menggigit bibir bawahnya agak keras, "Kalian terdengar akrab."

'Uh, ya? Dia sering data—'

'Jimin oppa!'

'Iya-iya, aku—'

"Jimin," Yoongi menarik nafas, "S-Sebenarnya pekerjaanmu apa?"

'Hah?'

"Pekerjaanmu."

'Pelayan? Bukankah sudah kubilang—'

"Sebenarnya aku berada di KTX." Yoongi menahan getar suaranya yang kentara. Menelan ludahnya berat seraya mengerling, suasana kereta memang sepi. Hanya ada beberapa penumpang yang lebih sibuk dengan dunia mereka sendiri ketimbang Yoongi, "Menuju Busan."


'Apa?!' Jimin terdengar kaget, 'Kak, jangan bercanda! Kuliahmu bagaimana?'

"Bolos."

'Hei, bukankah kita sepakat—'

"Sepuluh menit lagi aku sampai."



Dan panggilan terputus. Yoongi berusaha menetralkan debaran jantung yang semakin berpacu di balik rusuk.

Yoongi memang tahu, Park Jimin memiliki pekerjaan sambilan sebagai pelayan cafè. Tapi, ia tidak pernah tahu, cafè macam apa tempatnya bekerja.
Kalau host club,—ya Tuhan, Yoongi tidak mau berpikir sampai kesana.

Dan lagi, Jimin dan gadis itu terdengar akrab.
Ia tidak pernah peduli sebelumnya, tapi pikiran tentang Jimin bersama orang lain itu terasa menyakitkan, serius.



Antara efek teralu kangen? Atau terlalu sayang?

Ia tidak tahu.











.
.
.
.
.
.


Sesaat setelah pintu KTX terbuka, dan Yoongi menjejakkan kakinya serta menarik nafas—merasakan udara hangat Busan di akhir musim panas menerpa wajah;



ia tertegun.



"Halo, kak."


"J-Jimin?" Yoongi menepuk kedua pipinya sendiri. Berharap gambaran Park Jimin;—dengan setelan kemeja putih digulung tiga per empat lengan, serta celana bahan hitam dan rambut hitam tersibak acak menampilkan dahi yang berkilat basah oleh keringat—akan menghilang dari pandangannya.

Oh, ayolah.

Pacarnya Park Jimin itu kan sedang bekerja?
Melayani gadis bernama—siapa namanya tadi? Yerin?
Harusnya tidak disini, 'kan?



"K-Kenapa—"

"Jemput kamu, kak." Jimin tersenyum memperlihatkan gigi. Yoongi refleks merasakan pipinya memanas. Efek kangen?

"Bukannya kerja?"

"Bolos," ia menyahut kalem. Beralih mengecup dahi Yoongi halus, "Kangen kamu, kak."


Yoongi mengerjap bingung. Tapi sedikit pun tidak ada niatan untuk menepis lengan kokoh Jimin yang melingkari pinggangnya erat,
"T-Tunggu dulu!"

"Ya?"

"Kau—" Yoongi mengernyit, "B-Bukannya?"

"Kerja? Iya, kerja. Kan sudah dibilang bolos." Ia terkekeh, mengusak surai kelam Yoongi gemas, "Kangen kamu lho. Sudah jauh-jauh kesini, ini pacarnya nggak dipeluk?"

Jimin merentangkan lengan. Gestur berharap untuk dipeluk
Tapi alih-alih memeluk, yang ada, ia menerima pukulan beruntun pada pundak.




"Hey—ouch! Kak?!"

"Jimin bodoh! Bodoh! Bodoh!" Yoongi merapal kesal, "Seenaknya tidak memberi kabar, lalu datang kesini bilang kangen?! Bangsat!"

"Lho? Kok—"

"Aku kangen,bangsat!" pemuda manis itu mulai terisak, "Kangen sampai mau mati!"

Jimin mengerutkan alis, bingung. Tapi memilih tidak menyahut. Justru menarik Yoongi dalam pelukannya. Membiarkan pemuda manis itu menenggelamkan wajah pada bahu, balas memeluknya erat sekali,


"Katanya kerja! T-Tapi tadi ada suara—"

"Yerin?"

"Iya! Siapapun itu! Bodoh!"

"Yerin itu pelanggan, kak."

"Iya! Aku benci!"

Jimin terkekeh, "Jadi—cemburu?"



Diamnya Yoongi, itu pertanda iya.

Dan kalau boleh jujur, Jimin itu gemas setengah mati.
Min Yoongi itu jauh lebih tua, tapi manja minta ampun kalau sudah cemburu. Sekalipun lebih sering ditutupi dengan sifat galak, ketus dan sok tidak peduli yang kadang membuat Jimin mati-matian menahan hasrat untuk tidak membungkusnya dan disimpan jauh-jauh dari kejamnya dunia, tau?


Disaat seperti ini, ada lho niat jahil yang menggoda untuk muncul.
Menggoda Min Yoongi lebih jauh, membuatnya semakin cemburu supaya bisa bebas bermanja seharian.
Tapi, melihat tubuh ringkih pacar manisnya yang bergetar dalam dekapan itu membuat Jimin tidak tega.
Beralih mengelus punggung sempit itu halus, mengabaikan tatapan banyak orang karena—duh, mereka masih berada di stasiun. Tempat umum.




Tapi, masa bodoh.




"Kalau kamu cemburu, aku yang senang kak." Jimin terkekeh, "Cemburu itu artinya sayang."

"Berisik."

"Iya, berisik. Tapi kakak lucu, sumpah." Jimin mengecup pucuk kepalanya gemas, "Yerin itu adik kelas di Sekolah. Dia sudah punya pacar, kok."

".....serius?"

"Dua rius." Sahutnya kalem, "Lagipula, aku lebih sayang kamu ketimbang siapapun. Sekalipun mereka lebih cantik, atau lebih manja. Tapi, hati Park Jimin cuma milik Min Yoongi, mau bilang apa?"




Tau?



Saat itu juga, Yoongi bersyukur sudah cemburu.

Dan bersyukur, keputusannya untuk membolos kelas Ekonomi Makro, tidak berakhir sia-sia.


Friday, October 13, 2017

Rokok?








Jeon Jungkook itu,


Benci rokok.



Sangat benci.



Fakta yang tidak terlalu mengejutkan, bukan?




Well, maksudku, apa hebatnya merokok?


Karena bagi Jeon Jungkook, asap rokok itu menyebalkan. Terutama ketika dalam hisapan pertama kepulannya akan memenuhi relung parumu, dan membakar tenggorokan di saat yang bersamaan.


Rasanya perih, panas, dan sesak.
Bahkan jauh lebih menyebalkan ketimbang duduk di dalam kelas selama dua jam penuh untuk mendengarkan racauan guru tua di Kelas tentang Sejarah Korea.



ia benci rokok. Sangat benci.



Dan dua kali lebih benci ketika hal pertama yang ia dapatkan sepulang dari sekolah adalah;


Kim Taehyung, pacarnya,—



Yang berusia lebih tua dua tahun; saat ini tengah menjalani semester empat di bangku perkuliahan jurusan teknik sipil.

Yang setahu Jungkook harusnya tidak pulang sampai jam tiga sore nanti karena ada 'rapat' organisasi yang harus ia jalani.

Yang setahu Jungkook itu memang nakal.
Tapi bukan nakal yang bodoh.
Justru lebih ke arah nakal yang bertanggung jawab. Sekalipun kenakalan yang mereka lakukan sebenarnya jauh dari ambang batas wajar untuk usia mereka yang terlampau muda.



—tengah duduk di pinggiran balkon apartemen mereka, menghadap jalanan sibuk kota Seoul yang terbilang padat pada pukul dua siang hari, seolah menantang maut.

Wajahnya terlihat tenang. Semilir angin meniup helaian surai kelabunya yang agak panjang dan berantakan. Kedua matanya yang berbingkai bulu mata panjang itu menutup, menyapu permukaan pipi tirus dengan rahang tegas sebagai aksen.
Serta, kedua bilah bibir tebal pucat yang—sialnya, tengah menghisap satu gelinting rokok yang sangat sangat Jungkook benci.





Eh—?

Sejak kapan Taehyungnya merokok?





"Tae-hyung?"


Panggilannya yang begitu halus, sontak membuat Taehyung membuka kedua matanya. Menatap raut sang pacar yang lebih muda, seraya tersenyum simpul.



"Oh, sudah pulang, Jungkook-ah?"



Jungkook mengangguk kalem.
Perlahan, ia berjalan mendekat. Terlampau dekat ke arah yang lebih tua. Hingga ia dapat mencium warna tembakau yang dibakar, menusuk penghidunya dan refleks mengernyit.

Suatu hal yang jelas tidak terlewat dari mata Kim Taehyung yang sedari tadi tengah menatapnya intens.




"Sejak kapan kamu merokok, hyung?"



Pertanyaan polos, namun tetap saja membuatnya menyungging senyum kecil.
Taehyung menurunkan tangan—dimana batang nikotin itu masih setia terselip di antara jemari kurusnya. Beralih menatap Jungkook yang masih setia menunggu jawaban dengan raut yang jelas sekali terlihat terganggu, seraya mengendikkan bahu,



"Iseng aja. Nyoba."




Lagi.
Kim Taehyung menyesap puntung rokok itu lagi.
Jungkook mual membayangkan bagaimana Kim Taehyung membiarkan tenggorokannya terbakar dengan asap yang menjalar panas.

Ah, dia tidak tahu saja, kalau ini baru hirupan yang ketiga; setelah menstabilkan paru yang jelas sekali terasa sesak.


"Aku lihat, Namjoon hyung keren saat merokok. Jadi tadi coba minta satu."

"Dan Namjoon hyung memberimu, begitu?"

"Menurutmu?"



Jungkook menghela nafas, menatap benda pipih berwarna putih itu nyalang.
Netra bulat yang biasanya mengerjap polos itu kini memicing penuh benci,



"Hyung—"

"Mau?"

Ia menaikkan alis, "Mau apa?"

"Rokok."



Tanpa rasa bersalah, Kim Taehyung justru menyodorkan benda laknat yang sangat ia benci itu tepat di depan bibirnya.




Sekali lagi, kawan,

Jeon Jungkook itu benci sekali dengan rokok.


"Buang, hyung."

Taehyung menggeleng. Menarik tangan yang terjulur untuk menghisap rokoknya lagi,
"Tidak mau."

"Kubilang buang."

"Nuh-uh."


"Pernah belajar di Sekolah? Pernah lihat iklan rokok? Hyung mau tenggorokanmu bolong dan paru-parumu mengerut hitam seperti yang ada di gambar-gambar itu?"



Jungkook mengomel. Membombardir Taehyung dengan rengekan bernada protes, serta kedua tangan yang ditaruh di pinggang. Wajahnya mengerut kesal. Bibirnya sekali lagi menuai decakan sebal.

Terlebih ketika pemuda yang berada di hadapannya justru hanya memutar mata malas. Seolah menganggap gertakannya terlampau sepele.




"Coba tanya Namjoon hyung. Dia kan juga merokok." Sahutnya enteng. Dan dengan kurang ajar, menghembuskan nafasnya yang berbaur asap tembakau. Otomatis Jungkook membuang muka kesal.


"Aku nggak bakal ngelarang kamu untuk merokok, hyung." Ujarnya terbata dengan mata yang memerah dan berair. Asap rokok itu perih, man, "T-Tapi coba jangan ikut-ikutan dunia dewasa."

"Kamu yang sok dewasa." Taehyung mengusak surainya gemas, "Lagian tau apa? Kamu kan masih sekolah."



Jungkook mendengus. Beralih menepis tangan Taehyung yang bersarang di pucuk kepalanya. Merapikan helaian kelamnya yang berantakan dengan bibir yang mengerucut sebal,
"Cukup tau kalau rokok bisa membuatmu mati muda, hyung."


"Ckck, Jungkookie, sayang," Taehyung menggeleng, "Rokok nggak bakal bikin kamu mati muda, lho."

"Tapi—"

"Umur manusia emang nggak bakal ada yang tau. Tapi, rokok nggak bakal bikin kamu mati," ia tersenyum miring, "Lebih ke arah, membuat kamu tersiksa, sampai rasanya mau mati."

"Nah, itu tau."

"Baru sekali," kekehnya seraya menyesap lagi, "Nggak menjamin kalau yang kedua nggak bakal ada lagi sih. Ngomong-ngomong, rokok manis, ya?"

"Hyung!"




Jungkook seketika menyambar gelintingan rokok itu dari tangan Taehyung sebelum empunya bahkan bisa mengelak. Membuangnya ke tanah, kemudian menginjaknya secara brutal tanpa ampun. Dalam hati mengumpati benda laknat yang sudah kurang ajar berani terselip di antara bibir milik sang pacar, serta meracuni Kim Taehyung dengan—entah apa yang terkandung di dalamnya. Jungkook merasakan perutnya berputar acak begitu berpikir.



"H-Hoi! Rokokku—"

"Sudah, hyung!" Jungkook menatapnya bengis. Kedua lengan dilipat di depan dada, "Kalau hyung masih merokok juga, kita putus!"

"Eh-oh jang—"

"Hyung!"

"I-Iya sayang, iya. Nggak merokok lagi, ya Tuhan!" Taehyung buru-buru menarik Jungkook mendekat. Mendekapnya erat, mengabaikan Jungkook yang meronta dalam pelukannya yang terlalu protektif di sekitaran pinggangnya yang ramping,

"Sudah ya? Jangan putus! Toh, rokoknya juga sudah mati."

"Aish!" Jungkook mendecak kesal, "Tapi hyung bilang ada yang kedua?!"

"Bercanda, sayang. Ampun, kamu tuh," Dibalas dengusan sebal. Dan sekali lagi, Taehyung beralih mencubit kedua pipinya gemas, "Nah, sebagai ganti rokok yang padam—apa?"

"Hah?"

"Iya, pengganti rokok." Taehyung mengangguk kalem, "Tadi itu nanggung, lho, sebenarnya. Sudah keduluan diinjek."

Jungkook memutar matanya malas, "Permen?"

Taehyung mendecak, kemudian menggeleng, "Rokok lebih manis dari permen."

"Apa ya—" menggumam, "—gula?"

"Nggak. Lebih manis lagi."

"Terus ap—"




Cup,



Bibirnya dikecup. Halus sekali.

Kecupan singkat, tapi sukses membuat Jungkook menahan nafas, serta merasakan jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.

Taehyung itu, pemuda nakal.
Saking nakalnya, sampai jarang sekali melakukan hal kecil yang manis. Afeksinya sering sekali berujung pergerumulan panas di atas ranjang.

Karena itu, ketika ia menarik nafas dengan senyuman miring, serta elusan singkat pada bibir bawah Jungkook yang merekah terbuka setelah telak menempel seutuhnya; sang empunya bibir hanya bisa terdiam dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.



"Nah, manisnya rokok tuh begitu. Sudah ya, dadah!"




Jungkook hanya bisa mematung ketika bibirnya kembali diraup.
Kali ini, dengan sedikit lumatan pada ranumnya yang bawah, sebelum Kim Taehyung melepasnya dengan suara decakan basah, dan satu elusan halus pada pucuk kepala. Mengerjap polos ketika sang tersangka pengecupan sudah menghilang di balik pintu penghubung antara balkon dan ruang tengah.




Saat itu juga, Jungkook tertegun,




Rokok, ternyata memang manis, ya?