Aku ingat saat pertama kali bertemu denganmu.
Wajahmu begitu cantik, Jungkook-ah. Begitu hidup.
Dan aku ingin menjadi egois walau sekali hanya untuk menyecap gerusan kulitmu di bawah sinar bulan. Ingin mendengar lantunan melodi indah dari bilah bibirmu yang memanggil namaku walau hanya untuk satu malam.
Dan merasakan dengan jelas getar jemarimu kala mengamit milikku. Aku begitu ingin, Jungkook. Tapi aku tau, kita berbeda.
Kau dan juga aku, kita berbeda.
"Tersenyum, Jungkook-ah."
Dan aku bisa melihat air mata kembali membasahi pipimu kala aku menyerahkan satu buah permata ruby pada genggaman tangan pucatmu. Mengelus punggung tanganmu halus, seraya mempertemukan dahi kita berdua. Mengusaknya halus, kemudian membubuhkan satu kecupan lembut pada bibir yang selama ini menjadi bunga tidurku kala gelap,
"Maaf—aku tidak bisa ikut denganmu," bisikku lagi. Dan aku bisa melihat bagaimana jemarimu berusaha menggapai tubuhku yang perlahan menghilang, serta mendengar isakanmu yang tersengal kala memanggil namaku. Dengan menyedihkan meminta supaya aku tidak meninggalkanmu,
"Aku mencintaimu, Jungkook-ah."
Maafkan aku, tapi aku tidak bisa.
Tapi kuharap kau tau, aku tidak pernah sekalipun menyesal telah bertemu denganmu kala itu.
—Kim Taehyung, yang mencintaimu.
0 comments:
Post a Comment