Namanya Kim Taehyung.
Jungkook selalu berhasil mengukir senyum tiap kali nama pemuda urakan itu muncul di dalam benaknya.
Senyumnya yang hangat secerah matahari itu berbentuk persegi. Unik sekali. Namun selalu berhasil menggerakan sudut bibir Jungkook untuk bergerak naik. Juga, membentuk sebuah lengkungan dengan rona merah menghiasi kedua pipi. Dan Jungkook selalu menyukai afeksi yang diberikan oleh pemuda itu.
Sebuah hapusan punggung tangan pada pipi, dan gumam pujian yang berkata, "Kau cantik." Diucapkan tepat setelah pemuda itu mengusakkan kedua ujung hidung mereka berdua.
Ia tidak pernah sekalipun menolak.
Dan total membiarkan Kim Taehyung menuntunnya. Mendorong kursi rodanya ke bawah pohon sakura di atas bukit tidak jauh dari Rumah Rehabilitasi yang kini menjadi rumahnya.
Anehnya, para perawat tidak pernah menolak. Malah, membiarkan Kim Taehyung memonopolinya seharian penuh nyaris tiap hari. Terkecuali rabu Senin dan Rabu; karena kata Kim Taehyung,
"Professor Shim dan Jung galak sekali. Kalau aku membolos, aku bisa mati."
Jungkook hanya tertawa mendengarnya. Ia suka sekali ketika pemuda Kim itu mengeluh tentang banyak hal. Begitu terbuka akan kehidupannya, menceritakan padanya tentang dunia, memberinya warna, dan menghiasi hari-harinya.
"Kau tau, Jung."
Kim Taehyung berkata suatu hari. Jungkook hanya menoleh, tidak berbicara apapun, hanya mengangkat kedua alis tanda ingin tahu. Mempersilahkan pemuda Kim untuk melanjutkan kata-katanya yang menggantung hampa di udara.
"Aku sangat sangat beruntung bertemu denganmu."
Klise. Dan cheesy. Jungkook mengernyit geli, "–Apa?"
"Iya, aku beruntung." Kekehnya. Kini berbalik menghadapnya dengan cengiran kotak yang sangat Jungkook sukai, "Kau cantik. Manis. Halus sekali."
"Aku tidak cantik." Gelengnya dengan senyum, "Juga manis, atau halus."
"Kau iya, Jung. Jangan mengelak."
"Aku tidak secantik itu, Kim." Jungkook menghela nafas. Kedua pandangannya ketika menatap milik Taehyung berkaca-kaca, "Aku cacat."
Taehyung menggeleng. Dan lagi, senyuman hangat yang selalu membuat hati Jungkook menghangat, serta jantungnya yang berdegup kembali di balik rusuk—seolah masa lalu itu tidak ada artinya lagi—dibalut oleh cakupan tangan besar Taehyung yang terasa hangat ketika menyapu kedua pipinya membuat Jungkook terenyuh. Total menumpahkan segala emosi yang membelenggu, membiarkan kristal bening menyapa permukaan pipi, terus turun hingga dagu. Dibiarkan untuk dihapus bersih oleh ibu jari Kim Taehyung yang kasar.
"Kalau kau tau, Jung. Justru hal itu yang membuatmu terlihat sempurna, tau?" Ucapnya lembut. Kemudian tanpa bisa ia kendalikan, bibirnya menyapu kening pemuda Jeon. Lembut sekali, "Aku menyukaimu, bukan karena kau terlihat cantik, kok."
Jungkook menahan nafas, "—Lalu?"
"Kau terlihat kuat." Ia tersenyum, "Dan itu yang membuatmu indah sekali."
Kalau Jungkook diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kembali jatuh cinta;
—Apa boleh, ia membiarkan dirinya lengah dan menyerahkan hatinya untuk di belenggu oleh Kim Taehyung?




