Like a Papermoon We build our own sand-castle, together, forever!

Thursday, August 17, 2017

Love Yourself pt.2 [TaeKook ver.]







Namanya Kim Taehyung.



Jungkook selalu berhasil mengukir senyum tiap kali nama pemuda urakan itu muncul di dalam benaknya.
Senyumnya yang hangat secerah matahari itu berbentuk persegi. Unik sekali. Namun selalu berhasil menggerakan sudut bibir Jungkook untuk bergerak naik. Juga, membentuk sebuah lengkungan dengan rona merah menghiasi kedua pipi. Dan Jungkook selalu menyukai afeksi yang diberikan oleh pemuda itu.
Sebuah hapusan punggung tangan pada pipi, dan gumam pujian yang berkata, "Kau cantik." Diucapkan tepat setelah pemuda itu mengusakkan kedua ujung hidung mereka berdua.



Ia tidak pernah sekalipun menolak.
Dan total membiarkan Kim Taehyung menuntunnya. Mendorong kursi rodanya ke bawah pohon sakura di atas bukit tidak jauh dari Rumah Rehabilitasi yang kini menjadi rumahnya.
Anehnya, para perawat tidak pernah menolak. Malah, membiarkan Kim Taehyung memonopolinya seharian penuh nyaris tiap hari. Terkecuali rabu Senin dan Rabu; karena kata Kim Taehyung,

"Professor Shim dan Jung galak sekali. Kalau aku membolos, aku bisa mati."

Jungkook hanya tertawa mendengarnya. Ia suka sekali ketika pemuda Kim itu mengeluh tentang banyak hal. Begitu terbuka akan kehidupannya, menceritakan padanya tentang dunia, memberinya warna, dan menghiasi hari-harinya.





"Kau tau, Jung."

Kim Taehyung berkata suatu hari. Jungkook hanya menoleh, tidak berbicara apapun, hanya mengangkat kedua alis tanda ingin tahu. Mempersilahkan pemuda Kim untuk melanjutkan kata-katanya yang menggantung hampa di udara.

"Aku sangat sangat beruntung bertemu denganmu."

Klise. Dan cheesy. Jungkook mengernyit geli, "–Apa?"

"Iya, aku beruntung." Kekehnya. Kini berbalik menghadapnya dengan cengiran kotak yang sangat Jungkook sukai, "Kau cantik. Manis. Halus sekali."

"Aku tidak cantik." Gelengnya dengan senyum, "Juga manis, atau halus."

"Kau iya, Jung. Jangan mengelak."

"Aku tidak secantik itu, Kim." Jungkook menghela nafas. Kedua pandangannya ketika menatap milik Taehyung berkaca-kaca,  "Aku cacat."



Taehyung menggeleng. Dan lagi, senyuman hangat yang selalu membuat hati Jungkook menghangat, serta jantungnya yang berdegup kembali di balik rusuk—seolah masa lalu itu tidak ada artinya lagi—dibalut oleh cakupan tangan besar Taehyung yang terasa hangat ketika menyapu kedua pipinya membuat Jungkook terenyuh. Total menumpahkan segala emosi yang membelenggu, membiarkan kristal bening menyapa permukaan pipi, terus turun hingga dagu. Dibiarkan untuk dihapus bersih oleh ibu jari Kim Taehyung yang kasar.




"Kalau kau tau, Jung. Justru hal itu yang membuatmu terlihat sempurna, tau?" Ucapnya lembut. Kemudian tanpa bisa ia kendalikan, bibirnya menyapu kening pemuda Jeon. Lembut sekali, "Aku menyukaimu, bukan karena kau terlihat cantik, kok."

Jungkook menahan nafas, "—Lalu?"

"Kau terlihat kuat." Ia tersenyum, "Dan itu yang membuatmu indah sekali."



Kalau Jungkook diberi kesempatan oleh Tuhan untuk kembali jatuh cinta;

—Apa boleh, ia membiarkan dirinya lengah dan menyerahkan hatinya untuk di belenggu oleh Kim Taehyung?





Sunday, August 13, 2017

Love Yourself [YoonKook ver.]






Yoongi hanya mampu mengintipnya dari luar.
Terhalang sebuah sekat kaca yang kini keruh, namun netranya dapat memerangkap jelas sosok ringkih pemuda yang kini tengah terduduk rapi di atas ranjang.
Ia mengenakan sebuah pjamas putih. Sebuah setelan seragam rumah sakit yang ironisnya, terlihat begitu cantik ketika membalut tubuh yang sungguh sangat ia rindukan.


Ia tidak bisa berbohong.
Yoongi memang merindukannya. Sangat.
Begitu jelas terasa hingga kulitnya meremang. Jemarinya mengikir pintu. Sebuah damba terajut pada tiap guratan kukunya. Seluruh tubuhnya mendamba, begitu merindukan hangat tubuh dari pemuda manis yang kini terlihat begitu lelah.



Min Yoongi menyerah.
Sekali lagi, ia membiarkan ego yang menuntunnya.
Dengan tidak tahu malu kembali muncul di hadapan sosok yang selalu menyambutnya hangat. Dan ia tidak bisa berbohong bahwa senyum cantik seorang Jeon Jungkook selalu mampu membuat hatinya yang telah lama mati, kini terasa hidup kembali.




"Kau datang lagi, hyung?"


Suaranya yang terdengar halus, menjadi alasan yang cukup baginya untuk sekedar tersenyum tipis seraya mengangguk.
Tidak mengindahkan gestur yang lebih muda untuk menyuruhnya duduk. Ia justru menghambur ke pelukan si manis Jeon yang hanya mampu terkesiap dan pasrah menerima gelutannya.


"—Hyung?"

"Sebentar saja." Lirihnya. Bibir menyapu pundak, membiarkan hidungnya menyeruak ke celah perpotongan antara leher dan bahu, "Aku rindu. Rindu sekali."



Jeon Jungkook tetap sama.
Tetap hangat dan begitu lembut. Hingga Yoongi cukup terlena untuk hanyut dalam sebuah pelukan menenangkan. Membiarkan waktunya digerogoti sedikit lebih lama untuk menikmati deru nafas Jungkook yang balik menerpa tengkuknya. Membiarkan irama ritmis dari degup jantung Jungkook yang bersahutan dengan miliknya. Dan dengan sedikit egois, membiarkan rasa hausnya akan sentuhan terpenuhi oleh sisiran jemari Jungkook yang bermain pada punggung lebar yang kini beringsut payah.




Sekali lagi, biarkan Yoongi menjadi pria bajingan yang kembali merusak Jungkooknya.
Mengklaim ranum cherry yang ia damba sejak lama. Mengecup kedua bilahnya bergantian; menyesap yang atas, sebelum melumat yang bawah.
Tersenyum kecil, Yoongi menarik lidah Jungkook yang awalnya bergerak malu—menjilat bibir layaknya anak kucing—ke dalam satu pagutan yang lebih intim. Dengan lancang memanjat ranjang, dan mengukung tubuh yang lebih muda di bawah kuasanya. Terhimpit antara matras dan tubuhnya yang bertumpu lengan. Meremas habis pasokan udara dari relung respirasi, hingga tak satu pun dari mereka yang merasa sanggup berdiri lagi.


Secara literal, ia memang merusak Jungkook entah untuk yang keberapa kalinya.
Min Yoongi itu manusia bangsat.
Kelewat beruntung karena berhasil mengunci malaikat kecil layaknya Jeon Jungkook dalam relung hatinya. Memonopoli. Dan mengisolasinya jauh sekali.



"Aku mencintaimu, hyung."


Brengsek, memang.
Karena sekali lagi, Min Yoongi lebih memilih mencuri waktu, untuk kembali menyetubuhi entitas yang kini cacat itu di atas ranjang. Menghujamnya kasar hingga memantul pada ruang. Menikmati pekikan nyaring Jungkook ketika menyerukan namanya dalam lengkingan nada tinggi yang terjerat hentakkan nafas.

Perih pada punggung menjadi bukti, bahwa sekali lagi—


—Jeon Jungkook rela menyerahkan diri untuk diklaim serakah oleh si bangsat Yoongi.








.
.
.
.

Koridor itu sepi, gelap, dan dingin.
Saat itulah yang dicari Yoongi. Dimana ia bisa mengumpati dirinya sendiri dibalik nafas, mengutuk egonya yang kembali bergerak di luar nalar, dan kasarnya menghantam dinding dengan satu kepalan tangan sebagai jalan pelampiasan akan emosi yang luar biasa memuncak.
Ia berbuat bodoh lagi.



Tubuh pucatnya duduk tertunduk.
Kedua tangan tercakup menjadi satu kepalan. Urat nadi yang tercetak jelas menjadi visualisasi hina akan betapa frustasinya seorang Min Yoongi.
Karena sekali lagi, ia gagal melindungi Jungkooknya.



Seandainya saja ia lebih sabar, mungkin Jungkook masih bisa menari dengan bebas.
Atau, yang lebih sederhana; kursi roda cacat itu tidak akan menghancurkan kesempurnaannya.

Sialnya, itu hanya menjadi penyesalan yang nyata. Dan derik roda yang bergesekkan dengan lantai menjadi lantunan melodi yang seolah menamparnya keras.
Sakit, dan ia merutuki dirinya yang terlalu bodoh saat itu.


Kini, Jungkooknya tidak lagi sempurna.



Biarkan ia menebus dosa.
Pergi—merupakan satu-satunya jalan, ya?
Supaya Jungkook bisa hidup lebih baik. Tanpa adanya geruh yang lagi menggelut sempurnanya. 





Saturday, August 12, 2017

Love Yourself [MinYoon ver.]






Hujan.


Saat dimana sang langit yang agung menunjukkan kelemahannya.

Saat dimana sang bumi meraung akan sentuhan kecil air mata dari empyrian biru yang begitu luas.


Juga—


Saat dimana Min Yoongi akan menghabiskan waktunya menangis.
Mendekap kedua kakinya yang ringkih, menenggelamkan wajah pada kedua lipatan lengan yang bertumpu lutut, membiarkan bahu sempitnya berguncang akan tiap sengguk tangisnya yang tertahan.

Membiarkan hatinya kembali dihina dalam balut kenangan akan bayangannya.


Yoongi rindu akan sosoknya.
Wajahnya, lengkung senyumnya, sentuhan hangat tangannya, pelukannya yang erat, aroma tubuhnya yang segar seperti paduan citrus dan musim panas, serta punggung tegap yang terlihat begitu kokoh. Seolah memang tugasnya lah untuk melindungi Yoongi, hingga ia berani bersumpah; bahwa ia tidak pernah merasa sebegitu dicintai hingga ia bertemu dengannya.




.
.
.

Hujan;


Saat pertama kali ia bertemu dengan sosok pria yang merenggut hatinya.
Mengubah kelok asmaranya, menawan pandangannya akan sosok pemuda Busan yang begitu ia damba hingga nyaris gila.
Yoongi rindu. Rindu sekali.


Sebuah ironi yang sungguh sakit,
Ketika dimana hujan—yang mempertemukannya dengan pria dambaannya, haruslah yang menjadi pemisah keduanya.


"Aku—Jimin,"


Yoongi menarik nafasnya sekali lagi.
Biarlah hujan hari ini, berakhir sama dengan hujan biasanya.
Dimana ia akan bersembunyi, dan menenggelamkan diri dalam sosok pemuda menyedihkan yang begitu mendamba.
Kembali memanggil namanya; dengan harap agar ia bisa kembali walau cuma sesaat.



Bangsatnya, Park Jimin pergi.
Bersamaan dengan namanya yang perlahan menggerogoti akal sehatnya, terukir permanen pada hatinya.




.
.
.
Dan sekali lagi, biarkan Min Yoongi kembali meniti harapan.



Kala ia mengangkat wajah seiring suara gemericik hujan yang perlahan menipis dari pendengarannya.
Kala dingin itu tidak lagi menusuk.
Dan kala netranya menatap sosoknya sekali lagi.

Menangkap gambarannya yang begitu visual.
Indah dan gagah struktur punggungnya yang berdiri tegap berbalut hoodie kelabu yang dulu sekali kerap Yoongi curi tiap kali mereka bermalam bersama.

Sialnya, Yoongi masih tidak bisa lupa.
Dan debaran jantungnya pun tidak bisa berbohong.
Bahwa ia sangat sangat sangat ingin menyentuhnya.



"J-Jimin—"


Sayangnya, Min Yoongi harus kembali runtuh.

Kala pemuda itu berbalik menghadapnya, dan menatapnya lurus. Menguncinya dalam satu pandangan yang membuat nafas Min Yoongi tercekat, dan jemarinya bergetar.


Tidak ada cinta.


Tidak ada Park Jimin.


Yang ada hanyalah kekosongan,—dan sebuah penggambaran jelas akan tidak adanya alasan untuk kembali mencinta. 

Friday, August 11, 2017

Love Yourself [TaeKook Version]





Disana.

Pemuda itu disana.


Begitu cantik, begitu indah.
Terlihat lembut.
Dan Taehyung begitu menyukai senyum halus yang terukir ketika deru angin menyapu pipinya, menerbangkan helaian rambut hitamnya yang terlihat halus, mengajak kelopak bunga sakura terbang mengitari tubuhnya yang terlihat ringkih berbalut setelan pjamas putih bercorak bunga.


Kalau saja bukan karena kecantikannya yang menawan, Kim Taehyung jelas akan masa bodoh ketika melewati rumah rehabilitasi yang terletak dekat apartemennya sejak seminggu lalu.



Pilihannya; sekarang atau tidak sama sekali.


Menghampiri, menanyakan nama dan melihat lengkungan senyum itu secara lebih jelas dan nyata, atau berlari layaknya pengecut dan membiarkan bunga baby's breath di genggamannya mengering dan layu menyedihkan?



Kim Taehyung membiarkan kedua kaki menuntunnya mendekat. Dan samar, ia bisa mencium wangi musim semi yang menariknya jauh lebih kuat dari serbuk bunga sakura saat berhadapan dengan tubuh ramping yang duduk membelakanginya. Sweater mint yang bersinggungan dengan kulit putih cantik itu membuat rasa ingin pemuda Kim untuk menyentuh sosoknya  semakin membuncah.
Dan tanpa sadar menepuk pundak sempit yang seketika berjengit karena terkejut.



"Siapaー"

"Kim Taehyung, mahasiswa seni universitas CheongNam." Ujarnya dalam satu tarikan nafas. Kedua tangan terjulur, menyodorkan seikat bouquet bunga putih yang terlihat rapuh.

Lucu sekali, baik bunga dan pemuda manis di depannya ini terlihat cocok satu sama lain.



"Bodoh memang kalau aku bilang begini tapiー

ーAku sangat sangat menyukaimu. Serius. Kau cantik. Luar biasa cantik."



Dan ketika pandangan mereka bertemu, Taehyung bersumpah bahwa ia seolah mendengar nyanyian surga ketika ranum cherry di hadapannya terbuka bersamaan dengan netra hitam milik pemuda itu yang tersembunyi di balik lengkung kala ia tertawa. Indah sekali. Bagai lantunan harpa dengan suara setipis embun.



Ia jatuh cinta. Untuk yang kesekian kalinya, terhadap pemuda cantik berkursi roda yang bernama Jeon Jungkook.

ーHomojeon, [12/8] 10:31 a.m