Sunday, August 13, 2017

Love Yourself [YoonKook ver.]






Yoongi hanya mampu mengintipnya dari luar.
Terhalang sebuah sekat kaca yang kini keruh, namun netranya dapat memerangkap jelas sosok ringkih pemuda yang kini tengah terduduk rapi di atas ranjang.
Ia mengenakan sebuah pjamas putih. Sebuah setelan seragam rumah sakit yang ironisnya, terlihat begitu cantik ketika membalut tubuh yang sungguh sangat ia rindukan.


Ia tidak bisa berbohong.
Yoongi memang merindukannya. Sangat.
Begitu jelas terasa hingga kulitnya meremang. Jemarinya mengikir pintu. Sebuah damba terajut pada tiap guratan kukunya. Seluruh tubuhnya mendamba, begitu merindukan hangat tubuh dari pemuda manis yang kini terlihat begitu lelah.



Min Yoongi menyerah.
Sekali lagi, ia membiarkan ego yang menuntunnya.
Dengan tidak tahu malu kembali muncul di hadapan sosok yang selalu menyambutnya hangat. Dan ia tidak bisa berbohong bahwa senyum cantik seorang Jeon Jungkook selalu mampu membuat hatinya yang telah lama mati, kini terasa hidup kembali.




"Kau datang lagi, hyung?"


Suaranya yang terdengar halus, menjadi alasan yang cukup baginya untuk sekedar tersenyum tipis seraya mengangguk.
Tidak mengindahkan gestur yang lebih muda untuk menyuruhnya duduk. Ia justru menghambur ke pelukan si manis Jeon yang hanya mampu terkesiap dan pasrah menerima gelutannya.


"—Hyung?"

"Sebentar saja." Lirihnya. Bibir menyapu pundak, membiarkan hidungnya menyeruak ke celah perpotongan antara leher dan bahu, "Aku rindu. Rindu sekali."



Jeon Jungkook tetap sama.
Tetap hangat dan begitu lembut. Hingga Yoongi cukup terlena untuk hanyut dalam sebuah pelukan menenangkan. Membiarkan waktunya digerogoti sedikit lebih lama untuk menikmati deru nafas Jungkook yang balik menerpa tengkuknya. Membiarkan irama ritmis dari degup jantung Jungkook yang bersahutan dengan miliknya. Dan dengan sedikit egois, membiarkan rasa hausnya akan sentuhan terpenuhi oleh sisiran jemari Jungkook yang bermain pada punggung lebar yang kini beringsut payah.




Sekali lagi, biarkan Yoongi menjadi pria bajingan yang kembali merusak Jungkooknya.
Mengklaim ranum cherry yang ia damba sejak lama. Mengecup kedua bilahnya bergantian; menyesap yang atas, sebelum melumat yang bawah.
Tersenyum kecil, Yoongi menarik lidah Jungkook yang awalnya bergerak malu—menjilat bibir layaknya anak kucing—ke dalam satu pagutan yang lebih intim. Dengan lancang memanjat ranjang, dan mengukung tubuh yang lebih muda di bawah kuasanya. Terhimpit antara matras dan tubuhnya yang bertumpu lengan. Meremas habis pasokan udara dari relung respirasi, hingga tak satu pun dari mereka yang merasa sanggup berdiri lagi.


Secara literal, ia memang merusak Jungkook entah untuk yang keberapa kalinya.
Min Yoongi itu manusia bangsat.
Kelewat beruntung karena berhasil mengunci malaikat kecil layaknya Jeon Jungkook dalam relung hatinya. Memonopoli. Dan mengisolasinya jauh sekali.



"Aku mencintaimu, hyung."


Brengsek, memang.
Karena sekali lagi, Min Yoongi lebih memilih mencuri waktu, untuk kembali menyetubuhi entitas yang kini cacat itu di atas ranjang. Menghujamnya kasar hingga memantul pada ruang. Menikmati pekikan nyaring Jungkook ketika menyerukan namanya dalam lengkingan nada tinggi yang terjerat hentakkan nafas.

Perih pada punggung menjadi bukti, bahwa sekali lagi—


—Jeon Jungkook rela menyerahkan diri untuk diklaim serakah oleh si bangsat Yoongi.








.
.
.
.

Koridor itu sepi, gelap, dan dingin.
Saat itulah yang dicari Yoongi. Dimana ia bisa mengumpati dirinya sendiri dibalik nafas, mengutuk egonya yang kembali bergerak di luar nalar, dan kasarnya menghantam dinding dengan satu kepalan tangan sebagai jalan pelampiasan akan emosi yang luar biasa memuncak.
Ia berbuat bodoh lagi.



Tubuh pucatnya duduk tertunduk.
Kedua tangan tercakup menjadi satu kepalan. Urat nadi yang tercetak jelas menjadi visualisasi hina akan betapa frustasinya seorang Min Yoongi.
Karena sekali lagi, ia gagal melindungi Jungkooknya.



Seandainya saja ia lebih sabar, mungkin Jungkook masih bisa menari dengan bebas.
Atau, yang lebih sederhana; kursi roda cacat itu tidak akan menghancurkan kesempurnaannya.

Sialnya, itu hanya menjadi penyesalan yang nyata. Dan derik roda yang bergesekkan dengan lantai menjadi lantunan melodi yang seolah menamparnya keras.
Sakit, dan ia merutuki dirinya yang terlalu bodoh saat itu.


Kini, Jungkooknya tidak lagi sempurna.



Biarkan ia menebus dosa.
Pergi—merupakan satu-satunya jalan, ya?
Supaya Jungkook bisa hidup lebih baik. Tanpa adanya geruh yang lagi menggelut sempurnanya. 





3 comments:

  1. Kak mo aku mewek bacanya😭
    Why jungkookieku cocok bgt buat cerita angst wkwk

    ReplyDelete
  2. Sial lebih baper baca yang ini gua daripada taekook ver kak :"
    Keren kaliii singkat tapi ngena

    As long as you lah kak wkwk
    MAngatt

    ReplyDelete
  3. Gitu ya momo. Taekook bahagia, yoonkooknya angst heuheu T.T Jungkooknya uda dirusak, kok malah mau pergi. Yoongi gaboleh gitu huweeee.
    Like always, homojeon slalu mengguncan perasaan

    ReplyDelete