Jeon Jungkook itu,
Benci rokok.
Sangat benci.
Fakta yang tidak terlalu mengejutkan, bukan?
Well, maksudku, apa hebatnya merokok?
Karena bagi Jeon Jungkook, asap rokok itu menyebalkan. Terutama ketika dalam hisapan pertama kepulannya akan memenuhi relung parumu, dan membakar tenggorokan di saat yang bersamaan.
Rasanya perih, panas, dan sesak.
Bahkan jauh lebih menyebalkan ketimbang duduk di dalam kelas selama dua jam penuh untuk mendengarkan racauan guru tua di Kelas tentang Sejarah Korea.
ia benci rokok. Sangat benci.
Dan dua kali lebih benci ketika hal pertama yang ia dapatkan sepulang dari sekolah adalah;
Kim Taehyung, pacarnya,—
Yang berusia lebih tua dua tahun; saat ini tengah menjalani semester empat di bangku perkuliahan jurusan teknik sipil.
Yang setahu Jungkook harusnya tidak pulang sampai jam tiga sore nanti karena ada 'rapat' organisasi yang harus ia jalani.
Yang setahu Jungkook itu memang nakal.
Tapi bukan nakal yang bodoh.
Justru lebih ke arah nakal yang bertanggung jawab. Sekalipun kenakalan yang mereka lakukan sebenarnya jauh dari ambang batas wajar untuk usia mereka yang terlampau muda.
—tengah duduk di pinggiran balkon apartemen mereka, menghadap jalanan sibuk kota Seoul yang terbilang padat pada pukul dua siang hari, seolah menantang maut.
Wajahnya terlihat tenang. Semilir angin meniup helaian surai kelabunya yang agak panjang dan berantakan. Kedua matanya yang berbingkai bulu mata panjang itu menutup, menyapu permukaan pipi tirus dengan rahang tegas sebagai aksen.
Serta, kedua bilah bibir tebal pucat yang—sialnya, tengah menghisap satu gelinting rokok yang sangat sangat Jungkook benci.
Eh—?
Sejak kapan Taehyungnya merokok?
"Tae-hyung?"
Panggilannya yang begitu halus, sontak membuat Taehyung membuka kedua matanya. Menatap raut sang pacar yang lebih muda, seraya tersenyum simpul.
"Oh, sudah pulang, Jungkook-ah?"
Jungkook mengangguk kalem.
Perlahan, ia berjalan mendekat. Terlampau dekat ke arah yang lebih tua. Hingga ia dapat mencium warna tembakau yang dibakar, menusuk penghidunya dan refleks mengernyit.
Suatu hal yang jelas tidak terlewat dari mata Kim Taehyung yang sedari tadi tengah menatapnya intens.
"Sejak kapan kamu merokok, hyung?"
Pertanyaan polos, namun tetap saja membuatnya menyungging senyum kecil.
Taehyung menurunkan tangan—dimana batang nikotin itu masih setia terselip di antara jemari kurusnya. Beralih menatap Jungkook yang masih setia menunggu jawaban dengan raut yang jelas sekali terlihat terganggu, seraya mengendikkan bahu,
"Iseng aja. Nyoba."
Lagi.
Kim Taehyung menyesap puntung rokok itu lagi.
Jungkook mual membayangkan bagaimana Kim Taehyung membiarkan tenggorokannya terbakar dengan asap yang menjalar panas.
Ah, dia tidak tahu saja, kalau ini baru hirupan yang ketiga; setelah menstabilkan paru yang jelas sekali terasa sesak.
"Aku lihat, Namjoon hyung keren saat merokok. Jadi tadi coba minta satu."
"Dan Namjoon hyung memberimu, begitu?"
"Menurutmu?"
Jungkook menghela nafas, menatap benda pipih berwarna putih itu nyalang.
Netra bulat yang biasanya mengerjap polos itu kini memicing penuh benci,
"Hyung—"
"Mau?"
Ia menaikkan alis, "Mau apa?"
"Rokok."
Tanpa rasa bersalah, Kim Taehyung justru menyodorkan benda laknat yang sangat ia benci itu tepat di depan bibirnya.
Sekali lagi, kawan,
Jeon Jungkook itu benci sekali dengan rokok.
"Buang, hyung."
Taehyung menggeleng. Menarik tangan yang terjulur untuk menghisap rokoknya lagi,
"Tidak mau."
"Kubilang buang."
"Nuh-uh."
"Pernah belajar di Sekolah? Pernah lihat iklan rokok? Hyung mau tenggorokanmu bolong dan paru-parumu mengerut hitam seperti yang ada di gambar-gambar itu?"
Jungkook mengomel. Membombardir Taehyung dengan rengekan bernada protes, serta kedua tangan yang ditaruh di pinggang. Wajahnya mengerut kesal. Bibirnya sekali lagi menuai decakan sebal.
Terlebih ketika pemuda yang berada di hadapannya justru hanya memutar mata malas. Seolah menganggap gertakannya terlampau sepele.
"Coba tanya Namjoon hyung. Dia kan juga merokok." Sahutnya enteng. Dan dengan kurang ajar, menghembuskan nafasnya yang berbaur asap tembakau. Otomatis Jungkook membuang muka kesal.
"Aku nggak bakal ngelarang kamu untuk merokok, hyung." Ujarnya terbata dengan mata yang memerah dan berair. Asap rokok itu perih, man, "T-Tapi coba jangan ikut-ikutan dunia dewasa."
"Kamu yang sok dewasa." Taehyung mengusak surainya gemas, "Lagian tau apa? Kamu kan masih sekolah."
Jungkook mendengus. Beralih menepis tangan Taehyung yang bersarang di pucuk kepalanya. Merapikan helaian kelamnya yang berantakan dengan bibir yang mengerucut sebal,
"Cukup tau kalau rokok bisa membuatmu mati muda, hyung."
"Ckck, Jungkookie, sayang," Taehyung menggeleng, "Rokok nggak bakal bikin kamu mati muda, lho."
"Tapi—"
"Umur manusia emang nggak bakal ada yang tau. Tapi, rokok nggak bakal bikin kamu mati," ia tersenyum miring, "Lebih ke arah, membuat kamu tersiksa, sampai rasanya mau mati."
"Nah, itu tau."
"Baru sekali," kekehnya seraya menyesap lagi, "Nggak menjamin kalau yang kedua nggak bakal ada lagi sih. Ngomong-ngomong, rokok manis, ya?"
"Hyung!"
Jungkook seketika menyambar gelintingan rokok itu dari tangan Taehyung sebelum empunya bahkan bisa mengelak. Membuangnya ke tanah, kemudian menginjaknya secara brutal tanpa ampun. Dalam hati mengumpati benda laknat yang sudah kurang ajar berani terselip di antara bibir milik sang pacar, serta meracuni Kim Taehyung dengan—entah apa yang terkandung di dalamnya. Jungkook merasakan perutnya berputar acak begitu berpikir.
"H-Hoi! Rokokku—"
"Sudah, hyung!" Jungkook menatapnya bengis. Kedua lengan dilipat di depan dada, "Kalau hyung masih merokok juga, kita putus!"
"Eh-oh jang—"
"Hyung!"
"I-Iya sayang, iya. Nggak merokok lagi, ya Tuhan!" Taehyung buru-buru menarik Jungkook mendekat. Mendekapnya erat, mengabaikan Jungkook yang meronta dalam pelukannya yang terlalu protektif di sekitaran pinggangnya yang ramping,
"Sudah ya? Jangan putus! Toh, rokoknya juga sudah mati."
"Aish!" Jungkook mendecak kesal, "Tapi hyung bilang ada yang kedua?!"
"Bercanda, sayang. Ampun, kamu tuh," Dibalas dengusan sebal. Dan sekali lagi, Taehyung beralih mencubit kedua pipinya gemas, "Nah, sebagai ganti rokok yang padam—apa?"
"Hah?"
"Iya, pengganti rokok." Taehyung mengangguk kalem, "Tadi itu nanggung, lho, sebenarnya. Sudah keduluan diinjek."
Jungkook memutar matanya malas, "Permen?"
Taehyung mendecak, kemudian menggeleng, "Rokok lebih manis dari permen."
"Apa ya—" menggumam, "—gula?"
"Nggak. Lebih manis lagi."
"Terus ap—"
Cup,
Bibirnya dikecup. Halus sekali.
Kecupan singkat, tapi sukses membuat Jungkook menahan nafas, serta merasakan jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.
Taehyung itu, pemuda nakal.
Saking nakalnya, sampai jarang sekali melakukan hal kecil yang manis. Afeksinya sering sekali berujung pergerumulan panas di atas ranjang.
Karena itu, ketika ia menarik nafas dengan senyuman miring, serta elusan singkat pada bibir bawah Jungkook yang merekah terbuka setelah telak menempel seutuhnya; sang empunya bibir hanya bisa terdiam dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.
"Nah, manisnya rokok tuh begitu. Sudah ya, dadah!"
Jungkook hanya bisa mematung ketika bibirnya kembali diraup.
Kali ini, dengan sedikit lumatan pada ranumnya yang bawah, sebelum Kim Taehyung melepasnya dengan suara decakan basah, dan satu elusan halus pada pucuk kepala. Mengerjap polos ketika sang tersangka pengecupan sudah menghilang di balik pintu penghubung antara balkon dan ruang tengah.
Saat itu juga, Jungkook tertegun,
Rokok, ternyata memang manis, ya?

manis banget ihhhh:(
ReplyDeleteNamjoon kalo ngerokok sexy itu emang yaampun ughhh... Taehyung ngerokok itu juga edan bangsatnya. Buat aku sih asal ngerokok bukan asalnya penasaran ato ingin gegayaan ya aku bodo amat. Cuma kzl aja sama yg pengen gaya2an pake rokok tapi pipis belom bener. Gitusih mo. Gatau juga ya krn aku sendiri juga perokok jadi gabisa ngasi pendapat juga yg objektif hehe
ReplyDeleteNgebayangin juga kalo jimin ngerokok bareng tae sama namjoon.. Pake piercing dan tatto di jari :) kok jadi malah tambah seksi ya? Cuman ngebayangin di ff aja nggak beneran wkwk
ReplyDelete