Thursday, October 12, 2017

Starbuck's Coffee Crush!









"Hyung, serius?"

"Dua rius kalau perlu," Seokjin mendorong sedikit tubuh Jungkook yang lebih memilih bergeming, "Ayolah, Kook. Semakin cepat mulai, semakin cepat selesai!"

"T-Tapiー"

"Apalagi?!"


Jungkook melirik ke arah counter kasir yang terlihat dari balik jendela kaca besar. Menatap pemuda partikular yang tengah sibuk melayani pembeli disana, sebelum kembali menoleh ke arah Seokjin dan Yoongi dengan pandangan gugup.


"Jadiー?"

"Aku malu, hyung." Jungkook berujar lirih. Pipinya merona merah. Pandangannya beralih menatap ujung sepatu dengan sebelah tangan menggaruk tengkuknya canggung, "M-Maksudkuー"

"Banyak alasan." Kali ini Yoongi yang bergerak maju. Nadanya ketus dingin, kedua tangan bersidekap di depan dada. Gestur khas seorang senior angkuh musuh siswa baru.
Untungnya sih, mereka pada dasarnya memang akrab. Sekalipun memang, status Jungkook di lingkaran persahabatan mereka adalah si 'mahasiswa baru',


"Kau maju, atau dia kutikung?"

Jungkook mengerjap, "Lalu, Jimin hyung?"

"Masa bodoh. Putus sekarang juga bisa."

"Jangan!" Pekik Jungkook hingga baik Seokjin dan Yoongi, berjengit dan saling melempar tatapan kaget,

"Apa?"
Sadar akan tingkahnya yang aneh, Jungkook buru-buru menambahkan dengan tergagap, "M-Maksudku, oke! A-aku akan ke dalam."

"Nah, begitu kan bagus." Seokjin mengangguk seraya menepuk pipinya halus, "Sana masuk. Jangan lupa hasil hukuman 'dare'mu."






Dan dengan begitu, Jungkook melangkah memasuki kedai kopi kecil yang berada pada sudut perempatan kota Seoul yang berlokasi tidak jauh dari kampus.

Debaran jantung semakin kentara di setiap langkah. Kedua telapak tangan berkeringat ia masukkan ke dalam kantong kardigan lembut berwarna creme pastel sepanjang lutut. Melengkapi kemeja putih, celana jeans pucat serta sepatu boots yang menambah kesan cute pada penampilannya.

Hanya saja, sayang sekali ketika senyum manis bergigi kelinci itu harus tersembunyi di balik topeng ketakutannya.

Whoa.







"Selamat siang, ada yang bisa dibantuーlho, Jungkook?"





Dan tepat ketika suara serak bernada rendah itu memasuki telinganya, bersamaan dengan aroma khas butterscotch itu memenuhi relung parunya; berani sumpah, Jungkook menyesali ajakan kedua hyung-nya untuk bermain Truth or Dare di jam makan siang.


Sialan.



Double sialan ketika pemuda bersurai acak yang begitu selaras dengan suasana musim gugur Korea itu justru menatapnya intens dari ujung rambut hingga ujung kaki, dengan cengiran kotak hangat yang membuat rona merah kembali menjalari permukaan kedua pipi.



"Kau terlihat cute, by the way." Kekeh pemuda itu seraya mengusak surainya gemas. Menghasilkan rengekan involunter yang membuat Jungkook reflek menutup mulut.



"Whoops?"

"Ah,maksudku, h-hai juga, Tae-hyung," cicitnya lirih, "Umー"

"Pesanan biasa? Atau mau yang lain? Aku ada rekomendasi untuk kau coba," Pemuda bernama Taehyung itu berujar ramah seraya menunjuk papan menu yang terpasang di atas konter, "Pink Strawberry Yoghurt. Saranku, kurangi kopi. Kelebihan kafein tidak baik untuk bocah sepertimu."

"A-aku bukan bocah!" Pekiknya lagi, "T-Tapi berikan aku itu. Take away."

Taehyung mengendikkan bahu, "Okay." Ia berujar enteng sebelum meraih satu cup plastik bening, "Atas nama Jungー"


"Pikiran kedua, hyung. Boleh aku minta tolong?"











.
.
.
.
.
Ada satu tempat strategis yang menjadi titik favorit Jungkook tiap kali berkunjung ke Starbucks dekat kampus.
Di kanan, tepat di sudut ruangan yang bersebelahan dengan sebuah rak berisi pajangan porselen Matryoshka. Menempel pada kaca yang menghadap pinggiran jalanan sibuk di distrik Gwanak. Yang sialnya juga, tepat berhadapan dengan kedai sate tteok pinggir jalan tempat dimana kedua sahabatnya menunggu sembari tersenyum licik.



Jungkook sayang Seokjin, kok. Begitu pula Yoongi. 
Tapi agaknya, khusus hari ini rasa sayang itu berkurang sedikit. All thanks to permainan Truth or Dare yang membuatnya terjebak dalam situasi memalukan seperti ini. 
Belum terjadi, sih. Tapi Jungkook jelas sudah menyesali keputusan bodoh yang dia ambil hanya karena dirinya sedang bosan. 





"Terimakasih, ditunggu pesanannya ya."




Suara Kim Taehyung itu tenang, dalam, dan kalem. 
Jungkook suka. Terutama ketika pemuda Daegu itu memanggil namanya.

Sudah bukan merupakan rahasia lagi antara Jungkook dengan kedua sahabatnya; kalau ia memang menyukai si pemuda Kim semenjak masa orientasi. Bermula karena Kim Taehyung merupakan senior penanggung jawab kelompoknya, yang juga merupakan wakil dari ketua Orientasi yaitu Kim Namjoon; pacarnya Kim Seokjin.




Klise, memang.


Tapi, ayolah, siapa sih yang sewaktu masa orientasi tidak pernah menaruh hati pada kakak senior?





Jungkook juga boleh, dong.








Cting.




Jungkook menoleh was-was. Menatap ke arah segelas pesanan Caramel Macchiato yang ternyata milik seorang gadis yang datang bersama gerombolan kawannya.

Ah, dia tau gadis itu. Kakak kelas. Senior yang satu jurusan dengan Kim Taehyung. 
Jungkook lupa namanya, sih.



"Pesanan untuk.....—jodohku?"





Mampus.




Mau ditaruh dimana muka Jungkook?! 

Ketika kini, mata seluruh penjuru coffee shop sibuk mencari pembeli kopi atas nama 'jodohku'?



Bangsat bangsat bangsat. Jungkook ingin tenggelam saja di dalam lantai berpola mozaik menyebalkan!






Dan seolah ingin menambah kebangsatannya; Kim Taehyung kembali berseru.
Kali ini, dengan cengiran kotak menyenangkan sembari berjalan ke arahnya. 
Satu gelas Pink strawberry yoghurt di tangan.

Sesaat ketika Kim Taehyung membuka mulut, Jeon Jungkook tahu, hidupnya tidak akan lama lagi,







"Pink Strawberry Yoghurt untuk jodohnya Kim Taehyung?" Taehyung berkata seraya menaruh gelas di atas meja. Merunduk terlampau dekat hingga ujung hidungnya yang mancung nyaris bergesekkan dengan dahi Jungkook. Total menyita perhatian seluruh pelanggan, serta kedua sahabatnya yang bersorak di balik kaca.

Jungkook sesak oleh aroma butterscotch yang wangi, serta senyuman lembut Kim Taehyung ketika menatapnya lekat;





"Halo, Jungkook-ah?"









—Jeon Jungkook sukses pingsan.


4 comments:

  1. selalu suka dan author kesayangan aku�� keep on going kak��

    ReplyDelete
  2. Bisa bisanya kamu pinsan, Kuk... Civok itu langsung civoook

    ReplyDelete
  3. ini manis banget sumpah:"),ga kebayang jadi posisinya adek digituin tetet><

    ReplyDelete