Pair : Jimin x Taemin
Rate : T [semi] M
"Kau benar-benar harus mengajariku spin-shoot. Teknikmu bagus."
"Terima kasih, hyung. Tapi, ini bukan masalah teknik, kok." Jimin mengerling menggoda ke arah yang lebih tua, "Kau saja yang terlalu kaku."
Taemin tertawa kecil. Sebelah tangannya menutup bibir, sedikit tersipu, hingga Jimin sekilas bisa melihat rona merah sempat menyapu permukaan pipi tirusnya,
"Wah, mungkin ya. Sudah lama tidak bermain."
"Lebih tepatnya, sudah lama kita tidak bermain." Jimin balas terkekeh, "Kau sibuk sekali."
"Katakan itu pada dirimu sendiri, Jim." Taemin menyikut pinggangnya perlahan, sebelum memasang pose kuda-kuda, "Yang sekarang aku akan mengenai—"
"Posisi bridge-mu agak kaku hyung. Permisi," Jimin meminta ijin sejenak. Kedua tangan merengkuh pinggang ramping milik yang lebih tua. Sebelah kaki sedikit menyepak tumit kanan Taemin hingga tungkainya lurus. Menarik pinggul hingga bokong padatnya menonjol ke belakang, "Nah, coba tangan kirimu jangan mengangkat stik terlalu tinggi, hyung."
Taemin mengangguk tanpa sedikit pun menoleh.
Total kelewatan bagaimana pandangan Jimin bergerilya nakal pada bagian belakangnya. Serta desisan lirih ketika Taemin tidak sengaja menggesek bagian privasi Jimin yang masih setia berdiri di belakangnya. Lebih fokus mengunci pandangan pada titik bola putih sebelum menyodoknya agak kuat hingga memantul pada bola nomor lima;
"Begitu?"
"Draw shoot? Boleh juga. Sini, kubalas." Jimin menggerakan lehernya patah-patah. Melemaskan lengan sebelum ikut memasang bridge pada posisi di seberang Taemin, "Perhatikan, hyung."
Sengaja. Modus.
Sebenarnya Jimin hanya ingin mencuri pandang ke arah wajah Taemin yang memerhatikannya dengan serius.
Sedikit melirik nakal pada kedua belah bibir Taemin yang merekah terbuka. Warnanya merah dan sedikit berkilau di bawah cahaya temaram paddy's club. Cantik sekali. Wajahnya pun mulus.
Sekian lama tidak bersua. Jimin akui, sahabat merangkap hyung-nya ini semakin cantik, juga indah.
Tubuhnya juga kian berisi. Semakin seksi.
Nyaris seperti tubuh adik satu grupnya; Jeon Jungkook.
Tapi keduanya jelas memiliki pesona yang berbeda.
Hanya satu kesamaan yang mereka miliki;
Sama-sama sudah punya orang. Sahabatnya pula.
Sialan?
Nah. Jimin tidak masalah kok mencintai dalam diam.
"Whoa," Taemin mendecak kagum, menepuk kedua tangannya dengan raut terpukau begitu Jimin berhasil menembak angka sepuluh masuk ke dalam lubang, "Kemampuanmu tidak bisa diremehkan, ya? Atau sengaja tidak mau kalah? Padahal aku hyung-mu lho."
Jimin hanya mengendikkan bahunya sekilas. Mengikuti Taemin yang memilih mengambil duduk di salah satu bangku dekat meja billyard.
Pandangannya kembali mencuri tatap, kembali pada dua belah bibir yang kini berisi; menghisap driptip dari benda hitam yang berada pada genggaman.
Jimin tidak asing.
"Vape?" Taemin mengangguk, "Sejak kapan?"
"Kadang aku stress. Perlu pelampiasan," pemuda cantik itu tertawa kecil, "Minho hyung kadang malah menambah beban. Sulit, Jimin."
Jimin mengangguk, "Oh?"
Taemin tersenyum simpul, "Kenapa? Apa—menjijikan di matamu?"
Menjijikan?
Oh, hell no.
Sejak kapan makhluk indah di hadapannya yang berlumur dosa, serta gambaran nyata dari nafsu itu terlihat menjijikan di mata Park Jimin?
Dalam mimpi.
"Menjijikan?" Jimin tertawa, "Jangan bercanda. Kau seksi, hyung."
"Bercandamu kelewatan."
"Serius, kok. Cuma sayang," Jimin menggeser duduknya mendekat. Dan dengan lancang merebut vaporizer yang di genggam Taemin dalam satu sentakkan, "Tidak cocok denganmu."
"Hey, kembalik—"
"Hum, cinnamon? Tidak buruk. Hanya saja," ia menaruh jari pada permukaan bibir bawah sang hyung. Menelusuri jejaknya halus, merasakan tekstur lembut dan sedikit basah pada permukaannya hingga reflek meneguk ludah kasar ketika mata mereka bertemu pandang,
"—bibir seindah ini, untuk menghisap benda seperti ini? Kau bisa melakukan yang lebih baik, hyung."
Sejenak, Taemin hanya mampu menatap kaku sosok seorang Park Jimin; pemuda Busan yang berusia jauh lebih muda dan sudah ia anggap adik—ketika menghisap driptip dari samping.
Terpukai juga, karena rahang Jimin terbentuk begitu tegas, dan menggoda untuk ditelusuri oleh jarinya.
Aroma cinnamon menusuk hidung. Tapi Taemin total lupa akan keadaan dimana atmosfer di sekitar mereka mendadak memberat dan tidak wajar.
Terlebih ketika debaran anomali yang tidak seharusnya mulai menjalar pada nadi.
Sudah seharusnya ia mundur.
Cuma, apa yang bisa dikata,
ketika kedua bibir mereka sudah terlanjur bertemu?
Saling kehausan untuk memagut, berebut untuk mengambil kuasa.
Lidah berbelit mencari dominansi. Tangan menjalar mencari kenyamanan dalam dekapan.
Decak panas, serta lelehan liur menjadi peneman mereka malam itu.
Sesuatu yang dikecap oleh bibirnya untuk yang pertama malam itu.
Yang kedua, menunggunya di balik toilet.
Berhadapan dengan privasi Jimin yang kini polos tidak tertutup apapun. Mengacung tegak melawan gravitasi. Menjulang di hadapannya penuh kuasa dari posisinya yang berlutut tepat di bawah sang pria Busan.
Jemarinya yang sedikit gemetar menjadi tumpuan. Aliran adrenalin menjadi pendorong untuk menjadi lebih berani.
Berakhir dengan panas di ranjang.
Ah, jangan lupa.
Kalau sudah beralasan jalan-jalan bersama si Taemin-hyung,
Seorang Park Jimin jelas tidak pernah lupa untuk membawa pengaman, kok.

Mo mati aku mo yatuhan bagus banget... Bener2 aku juga marah waktu pada bikang jimin gaboleh deket2 sama taemin... Ugh... Sayang banget gak diterusin abis yg kedua hahahhaha
ReplyDelete